Data Persyarikatan
|
Nama Organisasi
|
:
|
Muhammadiyah
|
|
Berdiri
|
:
|
18 Nopember 1912 M
8 Dzulhijah 1330 H
|
|
Pendiri
|
:
|
K.H. Ahmad Dahlan
|
|
Ketua Umum (2010-2015)
|
:
|
Prof. Dr. H.M. Sirajuddin Syamsuddin, MA
|
|
Lokasi Awal Berdiri
|
:
|
Kampung Kauman, Yogyakarta
|
|
Alamat Kantor Pimpinan Pusat Muhammdiyah
|
:
|
Yogyakarta:
Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Jl. Cik Ditiro No. 23 Yogyakarta 55262 Telp. +62 274 553132 Fax.(+62 274 553137
Website: www.muhammadiyah.or.id
E-mail : pp_muhammadiyah@yahoo.com
Jakarta:
Gedung Dakwah Muhammadiyah,
Jl. Menteng Raya No.62 Jakarta 10340 Telp. +62 21 3903021 Fax. +62 21 3903024
Website: www.muhammadiyah.or.id
Email : pp_muhammadiyah@yahoo.com
|
|
Jaringan Muhammadiyah
1. Pimmpinan Wilayah (PWM)
2. Pimpinan Daerah (PDM)
3. Pimpinan Cabang (PCM)
4. Pimpinan Ranting (PRM)
|
:
:
:
:
|
33 Wilayah (Propinsi)
417 Daerah (Kabupaten/Kota)
3.221 Cabang (Kecamatan)
8.107 Ranting (Desa/Kelurahan)
|
|
Majelis-Majelis
|
:
|
1. Majelis Tarjih dan Tadjid
2. Majelis Tabligh
3. Majelis Pendidikan Tinggi (MPT)
4. Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU)
5. Majelis Pendidikan Kader (MPK)
6. Majelis Pustaka dan Informasi (MPI)
7. Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK)
8. Majelis Lingkungan Hidup (MLH)
9. Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM)
10. Majelis Pelayanan Sosial (MPS)
11. Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia (MH-HAM)
12. Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen)
13. Majelis Wakaf dan Kehartabendaan (MWK)
|
|
Lembaga-Lembaga
|
:
|
1. Lembaga Amal Zakat Infaq dan Shodaqqoh (LAZIS)
2. Lembaga Hubungan dan Kerjasama International
3. Lembaga Pengawas Pengelolaan Keuangan
4. Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting
5. Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik
6. Lembaga Penanganan Bencana
7. Lembaga Seni Budaya dan Olahraga
|
|
Organisasi Otonom
|
:
|
1. Aisyiyah
2. Pemud Muhammadiyah
3. Nasyiyatul Aisyiyah
4. Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah
5. Ikatan Pelajar Muhammadiyah
6. Hizbul Wathan
7. Tapak Suci
|
|
Muktamar Muhammadiyah (1912 – 2010)
|
:
|
|
|
Jumlah Ketua Umum (1912 – 2010)
|
:
|
Data Amal Usaha Muhammadiyah
|
No
|
Jenis Amal Usaha
|
Jumlah
|
|
1
|
Sekolah Dasar (SD)
|
1.176
|
|
2
|
Madrasah Ibtidaiyah/Diniyah (MI/MD)
|
1.428
|
|
3
|
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
|
1.188
|
|
4
|
Madrasah Tsanawiyah (MTs)
|
534
|
|
5
|
Sekolah Menengah Atas (SMA)
|
515
|
|
6
|
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
|
278
|
|
7
|
Madrasah Aliyah (MA)
|
172
|
|
8
|
Pondok Pesantren
|
67
|
|
9
|
Akademi
|
19
|
|
10
|
Politeknik
|
4
|
|
11
|
Sekolah Tinggi
|
88
|
|
12
|
Universitas
|
40
|
|
Jumlah total Perguruan tinggi Muhammadiyah
|
151
|
|
|
13
|
Perguruan Tinggi Aisyiyah
|
11
|
|
14
|
Rumah Sakit, Rumah Bersalin, BKIA, BP, dll
|
457
|
|
15
|
Panti Asuhan, Santunan, Asuhan Keluarga, dll.
|
318
|
|
16
|
Panti jompo *
|
54
|
|
17
|
Rehabilitasi Cacat *
|
82
|
|
18
|
TK Aisyiyah Bustanul Athfal *
|
2.289
|
|
19
|
Sekolah Luar Biasa (SLB) *
|
71
|
|
20
|
Masjid *
|
6.118
|
|
21
|
Musholla *
|
5.080
|
|
22
|
Tanah *
|
20.945.504 M²
|

Sri Nur Annisa
7 November 2011 at 13:45
Assalamu’alaikum Ustadz . saya punya masalah . apakah jenazah setelah dimasukkan ke liang lahat perlu di adzani? makasih ustadz sebelumnya . Wassalam .
habilih
13 November 2011 at 07:12
Mengumandangkan Adzan Ketika Jenazah Dikuburkan Bukanlah Perintah Agama
Tidak disunnah-kan adzan ketika jenazah dikuburkan. Namun, ada pendapat ketika jenazah dikuburkan itu bersamaan dengan adzan yang dikumandangkan, maka jenazah diringankan dari pertanyaan di alam kubur.
Sebagaimana dalam Kitab Ianatut Thalibin 1/230
وَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ يُسَنُّ الأَذَان عِنْدَ دُخُولِ القَبْرِ، خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ بِنِسْبَتِهِ قِيَاسًا لِخُرُوجِهِ مِنَ الدُنْيَا عَلَى دُخُولِهِ فِيْهَا. قَالَ إبنُ حَجَرٍ: وَرَدَدْتُهُ فِى شَرْحِ العُبَابِ، لَكِنْ إِذَا وَافَقَ إِنْزَالُهُ القَبْرَ أَذَانٌ خَفَّفَ عَنْهُ فِى السُّؤَالِ. إِعَانَةُ الطَّالِبِيْن جُزْ 1ص 230
“Ketahuilah bahwasanya adzan untuk mayit tidak disunnahkan ketika masuk ke liang kubur, berbeda dengan orang yang menishbatkan adzan karena mengqiyaskan meninggal dunia dengan lahir ke dunia. Ibn Hajar berpendapat: “Saya menolak pendapat ini dalam kitab Syarah al‘ Ubab. Tetapi ketika jenazah diturunkan ke dalam kubur bersamaan dengan dikumandangkannya adzan maka jenazah tersebut diringankan dari pertanyaan kubur”.
Apabila Terdengar Suara Adzan Atau Bersamaan Dengan Waktunya Jenazah Diturunkan Ke Liang Lahat
عَنْ أَنَسِ بن مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أُذِّنَ فِي قَرْيَةٍ أَمَّنَهَا اللَّهُ مِنْ عَذَابِهِ ذَلِكَ الْيَوْمَ.
Dari Anas bin Malik رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ berkata, bahwa Rasulullah bersabda: “Jika adzan dikumandangkan di sebuah kampung/desa/tempat, maka Allah maka akan membebaskan warga desa itu dari adzabNya pada hari itu.” (Mujam Al kabir At Thabrani)
Dari kedua keterangan dalil di atas, maka tidak ada hubungannya dengan mengazdankan khusus ketika mayit di masukkan ke liang lahat, bahkan bukan perbuatan sunnah.
Yang dimaksud keterangan adzan diatas adalah apabila suara adzan yang dikumandangkan di masjid- masjid atau musholla-musholla sekitar suaranya terdengar sampai ke kuburan, maka mungkin maksudnya diringankanlah si mayit dari pertanyaan kubur. Sedangkan saat ini sangat jarang sekali orang menguburkan mayit hampir bersamaan dengan masuknya waktu sholat.
Ibnu Hajar al Haitsami pernah ditanya tentang hukum adzan dan iqomat tatkala membuka liang lahad lalu Ibnu Hajar menjawab bahwa hal itu adalah bid’ah. Siapa saja yang menganggap bahwa adzan dan iqomat tatkala turun ke kuburan adalah sunnah dengan mengqiyaskannya dengan disunnahkannya adzan dan iqomat terhadap bayi yang baru dilahirkan serta dengan alasan bahwa akhir suatu perkara mengikuti awalnya maka ini adalah pernyataan yang salah. Betapa banyak sesuatu yang menyatukan antara dua perkara dan sebatas bahwa begini diawalnya dan begitu di akhirnya sesungguhnya tidak mengharuskan yang akhir mengikuti yang awal. (Fatawa al Fiqhiyah al Kubro juz III hal 166)
وَلاَ يُسَنُّ عِنْدَ اِدْخَالِ الْميِّتِ الْقَبْرَ عَلَى الْمُعْتَمَدِ [الشرقاوي 1/227]
“Tidaklah disunatkan adzan ketika memasukkan jenazah ke liang kubur, menurut qaul mu’tamad” (Al-Syarqawi 1/227)
wallahu a’lam bishawab
sumber : http://zuhud.info