Adakah telapak tangan kita berpeluh,
hati kita berdebar kencang dan
suara kita tersekat di dada?
Itu bukan Cinta, itu SUKA.
Aku gantungkan jutaan harap padamu.
Namun kau balas dengan janji manis setinggi langit.
Aku terbuai dengan kemanisan ucapmu.
Aku bak melayang terbang ke langit dengan sayap indah.
Namun …
Ketika ku tahu janji mu selalu tak terbukti.
Aku tersungkur ke dasar bumi.
Sayap indahku tak lagi patah.
Justru melebur sirna bersama kecewa saat melihat
kebohonganmu.
Ku maafkan kesalahanmu.
Ku turunkan harap ku menjadi satu pinta.
Ya…cuma satu.
Perhatikan diriku itu saja.
Sayang kau hanya mampu menjalaninya 2 hari.
Apakah aku harus menurunkan harapku lagi?.
Dari sejuta menjadi satu.
Dari satu menjadi tiada?.
Aku bingung melihat dunia…
Haruskah ku ikuti para penghuninya?
Seluruhnya…
Atau aku menolak, dan akupun terasing?
cinta…
cinta yang sudah kotor oleh imajinasi.
oleh nafsu, oleh bodohnya manusia berpendapat akan maunya cinta.
Dapatkah aku membersihkannya? Read the rest of this entry »